DI ALAM TERBUKA
Alam dan manusia adalah dua wilayah yang menyatu dalam suatu kehidupan.S atu sama lain memberikan peran dan arti penting bagi kehidupannya, kita tidak bisa membayangkan bagaimana manusia hidup tanpa alam dan bagaimana alam hidup tanpa manusia.
Logika seperti diatas sebenarnya telah dipahami oleh semua insan yang hidup di muka bumi. Tapi,bila dicermati belum tentu demikian adanya. Alam seperti halnya usia, contohnya manusia semakin lama semakin renta dengan tingkat produksi dan penyelamatan diri yang semakin lemah dan rendah. Padahal manusia memiliki akal dan pikiran yang semakin hari semakin memperlihatkan kualitasnya.
Banyak remaja sering mengisi waktu liburan dengan naik gunung. Namun, karena ketidak-tahuan, kegiatan fisik berat ini sering tidak disiapkan dengan baik. Padahal, kegiatan di alam terbuka tersebut ditentukan oleh banyak faktor yang akan mempengaruhi besar kecilnya resiko yang akan kita alami jika tidak dibekali dengan pengetahuan dan persiapan yang matang. Dan dalam kegiatan alam terbuka tersebut kita tentunya tahu akan bahaya yang sewaktu-waktu dapat mengancam jiwa kita. Bagaimanapun, Alam dengan rimba liarnya, tebing terjalnya, udara dingin dan kencangnya angin yang menusuk tulang, malam yang gelap dan kabut pekat yang selalu menutup pandangan itu bukanlah habitat manusia modern.
Secara umum, ada dua faktor yang mempengaruhi berhasil tidaknya dalam kegiatan alam terbuka. Pertama, faktor ekstern atau faktor yang berasal dari luar diri pendaki. Cuaca, kondisi alam, gas beracun yang terkandung dalam gunung dan sebagainya yang merupakan sifat dan bagian alam itu sendiri. Karena itu, bahaya yang mungkin timbul seperti angin badai, pohon tumbang, letusan gunung atau meluapnya gas beracun dikategorikan sebagai bahaya objektif (objective danger). Seringkali faktor itu berubah dengan cepat di luar perkiraan manusia.
Tidak ada seorang pun yang dapat mengatur bahaya objektif itu, Namun kita dapat menyiapkan diri menghadapi segala kemungkinan yang dapat terjadi sewaktu-waktu. Persiapan, kemampuan, pengetahuan dan diri petualang sendiri itulah yang menjadi faktor intern, faktor kedua yang berpengaruh pada sukses atau tidaknya kegiatan di alam terbuka tersebut.
Bila pendaki tidak mempersiapkan pendakian, maka dia hanya memperbesar bahaya subyektif. Misalnya, bahaya kedinginan karena pendaki tidak membawa jaket tebal atau tenda untuk melawan dinginnya udara gunung dan kencangnya angin atau badai. Atau pendaki tidak membawa logistik yang cukup dan bahan bakar untuk mendukung kegiatan tersebut,itukan sama juga dengan bunuh diri tho?(kecuali untuk orang-orang yang udah jago…)
Hal-hal seperti diatas tentunya tidak harus terjadi pada kita yang pasti telah mengerti akan standart pendakian dan safety prosedur yang berlaku. Dalam kaitannya dengan aktivitas dialam terbuka,pengetahuan dan skill sangat penting juga dalam mendukung kegiatan berat itu. Penguasaan tentang navigasi darat,IMPK,survival,single rope technik (SRT),management rope,stroke technik sampai renang jeram mutlak dibutuhkan jika kita ingin menjelajahi alam bebas seperti yang biasa kita lakukan sebagai penggiat olahraga high risk walaupun bisa saja kita menyewa orang untuk membantu kita. Tetapi bukan hanya itu saja, ada hal penting lainnya yang tidak boleh untuk kita lewatkan. Seharusnya dalam setiap aktivitas yang kita lakukan, setidaknya harus ada sesuatu yang bisa kita dapatkan agar pendakian gunung,pemanjatan,penulusuran gua,pengarungan atau kegiatan lainnya yang biasa kita lakukan menjadi berkesan dan lebih bermakna. Lalu apa yang harus kita lakukan? Jawabannya adalah Belajar dari pengalaman(experiential learning). Itu dapat berlangsung pada saat seseorang terlibat dalam sebuah aktivitas,mereflesikan dengan seksama setelahnya,lalu memetik nilai atau makna yang terkandung dalam setiap peristiwa tersebut. Proses seperti ini sebenarnya sering kita alami dalam kehidupan kita sehari-hari. Tetapi kebanyakan orang lupa,malas atau tidak menghiraukannya karena dinilai kurang penting. Dalam kelompok(team)pemanjatan di big wall misalnya yang butuh berhari-hari untuk dapat mencapai summit. Jika pada proses pemanjatan yang cukup lama tersebut mereka tidak belajar mengenalii keadaan alam,keadaan psikologi team,keadaan peralatan dan perlengkapan pada saat itu, mungkin mereka sama saja dengan bunuh diri walaupun secara perlahan-lahan atau bisa saja mereka akan saling memotong tali rekannya sendiri dan jatuh pada ketinggian 300 m (ngenes tho..).
Sebenarnya Banyak lagi pembelajaran-pembelajaran lainnya yang bisa kita dapatkan pada aktivitas sekedar naik gunung. Tetapi kita juga harus mempunyai modal yang cukup pula untuk melakukannya. Diperlukan latihan-latihan yang intensif agar resiko yang mungkin dapat terjadi dapat diminimalisasikan sehingga kita dapat merasa aman dan yakin untuk melakukannya. Dan sambil belajar mengenal bangsa sendiri,kalau-kalau ditanya orang tentang nasionalisme, jawab saja “Nasionalisme tidak dapat tumbuh dari slogan atau indoktrinasi, cinta tanah air hanya tumbuh dari melihat langsung alam dan masyarakatnya, dan untuk itulah kami naik gunung”.


0 komentar:
Posting Komentar